Menteri Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi Myanmar, Soe Tha, melaporkan bahwa inflasi di Myanmar meningkat 4 kali lipat dari tahun lalu sementara pertumbuhan produk domestik bruto (GDP) melebihi target yaitu 13,2%. Inflasi di Maret 2005 adalah 3.76% dan meningkat menjadi 16.44% di September 2006. “Berbagai usaha akan dilakukan untuk membawa tingkat inflasi kembali ke level 1 digit,” ujarnya kepada wartawan di ibukota yang baru Naypyidaw dalam jumpa pers yang sebenarnya jarang dilakukan. Di samping itu Soe Tha mengatakan bahwa GDP meningkat melebihi target, padahal Myanmar mengalami sanksi ekonomi dari barat. Pemerintah menargetkan pertumbuhan GDP untuk tahun fiskal 2006-07 sebesar 12%. AS dan Eropa mengenakan sanksi terhadap Myanmar karena masalah pelanggaran hak asasi manusia dan lambatnya langkah demokrasi. Namun akibat dari sanksi tersebut melemah karena negara tetangga Myanmar yang tetap tertarik terhadap kekayaan sumber daya alamnya. Menurut Soe Tha, investasi luar negeri tahun 2005-06 sebesar 6.06 triliun dolar dimana investor terbesarnya adalah negara kawasan Asia. Sektor enerji merupakan sumber penghasilan terbesar. Namun statistik yang dikeluarkan pemerintah Myanmar kurang dapat dipercaya apalagi banyak perdagangan di perbatasan yang tidak berada dalam kontrol pemerintah.
AFP: Myanmar’s inflation quadruples, while GDP hits 13.2 percent growth, 18 Des